Thursday, November 6, 2014

PULANG ['chez moi']


A Collaborative Performance with Pandu Hidayat (sound art)



"Paris as Viewed from Jakarta"

poem reading with sound art | a collaboration: sound & performance art | by Atieq SS Listyowati (performance art) & Pandu Hidayat (sound-art)

[karya ini merupakan interpretasi terhadap peristiwa politik yang pernah terjadi di Indonesia, khususnya Jakarta yang menyebabkan 'hilangnya' beberapa 'orang terduga' terlibat dalam kasus ideologi tertentu sehingga beberapa nama masuk dalam daftar hitam pemerintah RI pada waktu itu dan banyak di antaranya kemudian terpaksa 'hengkang' dari tanah air dan menetap di beberapa negara di benua lain, antara lain berdiam di Paris (ibukota Perancis) selama puluhan tahun. Hingga kini belum pernah melalui jenjang peradilan yang secara jelas membuktikan 'keterdugaan' dan 'keterlibatan' mereka hingga harus mengalami perbedaan sikap sosial karena dianggap 'berbahaya', mereka pun mendapatkan sebutan sebagai kaum 'exile']



*

ketika jarak antara paris – jakarta tak lagi maya

meski tetap di sejuta tahun cahaya

dalam lesatan kilasan sejarah berdarah jakarta

melontarkan anak-anak negeri di jamrud hijau khatulistiwa

ke dalam timbunan dingin salju putih 

merintih meradang menggelepar 

merangkaki bebatuan jalanan kota paris

terkapar meringkuk bersimpuh di kaki menara eiffel

jauh merasuk di antara bulir-bulir kristal es membeku

mencoba memahami, menerjemahkan makna diri & segala arti

di antara dentuman irama detak jantung, 

berpacu di tiap helaan nafas memburu…

membilur biru… atas nama cinta pribumi

sukma pun menggigil dalam kilatan kerlap-kerlip sinar kota

dari ujung kerling emas berbinar di puncak monas 

sejuta tahun cahaya melesat dalam warna-warni pelangi 

melukiskan kisah anak-anak negeri

dalam kilauan sorotan sinar menyala di seputar sungai seine 

& pantulan mentari pagi di kubah montmatre
 
ke sepanjang jalanan menuju champ de elyses

oh, … percikan kilatan asa ada di situ

bon jour

tetaplah hidup!!!

*

when the distance between paris - jakarta is no longer virtual

though still in a million light years

in dashed glimpses bloody history of jakarta

catapult children in emerald green country equator

into a pile of snow white cold

moaning inflamed flounder

crawl on the rocks of the streets in paris

lying curled up kneeling at the foot of la tour eiffel,

far penetrated in between grains of ice crystals freeze

trying to understand, interpret the meaning of self and all meaning

between pounding rhythm of the heartbeat,

raced in every sigh hunt ...

 welting blue... in the name of love native

soul was shivering in a flash of light flickering town

from the end of the gleaming gold sparkle at the top of monas

million light years racing in the colors of the rainbow

depicts the story of the children of nation

the beam radiance lit around the river seine

and the reflection of the morning sun in the dome montmatre

along the roads leading to the champ de elyses

oh, ... spark flashes up there

bon jour !

still alive!!!





Technology has always been an integral part of many artists to respond to it. This performance is inspired by Atsuko Tanaka's performance (Gutai Group-Japan in 1960th). Expression critical of the creation of more technology to the expansion of the interpretation, especially in social-political situation. This interpretation is evolving to include the technology itself is framed in the decoding process. The light that travels into the digital data to a computer and then out in the form of a new voice through the transformation of electronic technology.

 

LIGHT is a plank in the history of time travel that is ready to sing the SOUND of the past existence of contemporary life to come. When documentation becomes an important role as artifacts of life, the history of archives and manuscript discovery in matters of days is a blue print of us who breathe in the middle of relativity to the lives of tomorrow and beyond.

 

None apart from the portraits of the past, so we move forward darted like light and sound that illuminates and fills every niche of silence in our hearts.

Thursday, February 6, 2014

Le Métro

http://t.co/hVC5a8fSvI
http://www.youtube.com/watch?v=wuYlUXKwyIM&list=UU_z3g23vEs01lEhlHhOgy5A


in collaboration with:

Dani Iswardana/ visual artist
Tri Ganjar Wicaksono/ dalang
Pandu Hidayat/ sound project digital comp. & video art


Jumat, 22 November 2013
pk. 19.00
Auditorium IFI Surabaya
Jl. Ratna 14, komplek AJBS Surabaya


:::::::::::::::

Kesenian wayang sudah mendarah daging dalam budaya Indonesia dengan berbagai jenisnya : wayang kulit, golek, orang, klitik dan beber. Jenis yang disebut terakhir merupakan titik awal dari segala bentuk wayang yang ada di Nusantara (jaman Jayabaya). Inilah yang akan ditampilkan oleh sekelompok seniman yang berkolaborasi dalam kreasi terbaru mereka, Le Métro, dengan sentuhan modern.

Pertunjukan ini didahului oleh workshop pengenalan wayang beber pada siang harinya. Seusai pentas, diadakan sesi diskusi.

(gratis, untuk umum)
*
*
*

Situasi Umum:
Wayang beber sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional yang hampir punah dan kini menjadi 'anak tiri' dibanding wayang-wayang lainnya. Padahal wayang beber yang diperkirakan lahir di masa Jayabaya (abad ke-9) bahkan sebelum Kerajaan Majapahit (abad ke-12) adalah 'cikal-bakal' keberadaan wayang klithik, wayang kulit, wayang golek dan sebagainya di Indonesia (konon semenjak wayang beber diubah oleh Sunan Kalijaga menjadi wayang kulit untuk menyamarkan figur manusia dalam gambar-gambar wayang beber).
Wayang beber berkarakteristik berdasarkan kultur masing-masing pembuatnya dimana tumbuh dan berada. Tak hanya eksis di Pacitan, namun juga di Bali. Di Jawa, wayang beber identik dengan sebutan 'wayang panji' karena tokoh dan ceritanya diambil dari kisah cinta Panji Inu Kertapati dan istrinya Galuh Candra Kirana yang menyamar sebagai Panji Semirang dalam pencarian mereka masing-masing atas satu sama lainnya hingga lahir pula kisah Ande-ande Lumut, Keong Mas dan sebagainya. Sementara di Bali, semula wayang beber memuat cerita Panji, namun kemudian lebih dikenal dengan cerita Ramayana dan Mahabharata akibat pengaruh agama Hindu yang mendominasi masyarakat suku Bali.

Masalah:
Wayang beber masih belum diketahui masyarakat luas. Sementara bagi sekelompok seniman muda, wayang beber adalah medium menarik bagi karya seni masa kini. Program ini akan memberikan alternatif baru dan menggairahkan budaya apresiasi di berbagai genre budaya dan kesenian di Indonesia melalui eksplorasi data dan penelitian serta berbagai program budaya dan kesenian wayang beber.

Tujuan Utama:
- Memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas tentang keberadaan seni tradisi yang hampir punah bernama wayang beber.
- Memberikan nuansa baru pada pementasan wayang beber yang berkonsep 'kota' dan 'kekinian' yang merupakan masalah keseharian masyarakat.
- Memicu kreativitas berikutnya dan perkembangan wayang beber di dunia seni Indonesia hingga dunia sekaligus menyatukan visi dan misi para pemerhati wayang beber untuk bersama-sama saling mendukung.

Sasaran-sasaran:
- Apresiasi masyarakat luas terhadap keberadaan wayang beber sebagai salah satu artefak kuno para leluhur yang menjadi cikal bakal keberadaan berbagai bentuk wayang kemudian;
- Mengangkat kembali sekaligus menumbuhkembangkan minat masyarakat terhadap pengumpulan data serta perawatan artefak dan pengembangan wayang beber sebagai karya seni yang berangkat dari kultur tradisi;
- Menggalang komunitas kaum muda yang memiliki minat khusus dalam pengembangan wayang beber sebagai salah satu medium aspirasi dan inspirasi mereka.

HEMBESÖK (Home visits) - North Sweden

(me: as an independent observer)

Performance Art i Norr
PAiN


Tre utflyttade konstnärer från Norrbotten kommer hem och hälsar på med var sitt performance på varandras hemorter!

Eva Törmä (Pajala/Gbg)




Natalie Avigdor (Sävast/Jerusalem)



Heidi Edström [ingentinget] (Luleå/Sthlm)





12/10 Tornedalsteatern, Pajala kl. 19.30
14/10 SKAPA Hotell, Sävast kl. 19.00

15/10 Boden kl. 15.00
16/10 Galleri Syster, Luleå kl. 19.00

Med stöd av Norrbottens Läns Landsting, Pajala Kommun, Bodens Kommun och Luleå Kommun

I samarbete med ABF

Natalie Avigdor studerar på konstakademin Bezalel i Jerusalem. Hon har sina rötter i Sävast och har studerat på estet-linjen på Luleå Gymnasieskola. Under HEMBESÖK genomför Natalie verket ”Ashes” som handlar om renessance – om fågeln Fenix som reser sig från askan. Performancet har tidigare visats i Sarajevo samt i Ceasaria i Israel.

Eva Törmä är en utflyttad Pajalabo som numera är bosatt i Göteborg. Hon är utbildad performancekonstnär vid Sverigefinska Folkhögskolan i Haparanda och har många år bakom sig i teatern och konstens värld. Idag är Eva student vid Institutionen för Globala Studier i Göteborg, där Afrika är huvudämnet. Under HEMBESÖK visar hon "Forgive me" som tar avstamp i hennes studier. .

Heidi Edström alias [Ingentinget] är född och uppvuxen i Luleå men bor numera i Stockholm där hon verkar som frilansande konstnär. Heidi har de senaste tre åren har arbetat på en serie verk där inspirationen har sprungit ur begreppet ”knöl” och under HEMBESÖK visar hon verket "cumbersome dough" som ingår i serien.

Läs mer på painperformance.com

---






Three norrbottnian artists now residing in other places comes home and visits their hometowns with new performance works.

Eva Törmä (Pajala/Gbg)
Natalie Avigdor (Sävast/Jerusalem)
Heidi Edström [ingentinget] (Luleå/Sthlm)

12/10 Tornedalsteatern, Pajala 19.30
14/10 SKAPA Hotell, Sävast 19.00

15/10 Boden kl. 15.00 
16/10 Galleri Syster, Luleå 19.00

Supported by Norrbottens Läns Landsting, Pajala Kommun, Bodens Kommun and Luleå Kommun

In collaboration with ABF

Read more at painperformance.com

Sound of Lights


Saturday, November 9, 2013 at 5:00pm to 8:00pm
Performance i Glashuset! (Performance in the Glass House!)



PAiN presenterar performance i Glashuset på Rådhustorget i Umeå!
Vi återkommer till våren igen!
I samarbete med ABF och Umeå2014
_ _ _

PAiN presents performance in Glashuset at Rådhustorget in Umeå! 


9/10 Atieq SS Listyowati (Jakarta)

In collaboration with ABF and Umeå2014


Performance i Glashuset! (Performance in the Glass House!)

Photos by organisers: Johannes Blomqvist & Marcus Weinehall



 


Synopsis


 


Technology has always been an integral part of many artists to respond to it. Expression critical of the creation of more technology to the expansion of the interpretation. This interpretation is evolving to include the technology itself is framed in the decoding process. The light that travels into the digital data to a computer and then out in the form of a new voice through the transformation of electronic technology.


 

LIGHT is a plank in the history of time travel that is ready to sing the SOUND of the past existence of contemporary life to come. When documentation becomes an important role as artifacts of life, the history of archives and manuscript discovery in matters of days is a blue print of us who breathe in the middle of relativity to the lives of tomorrow and beyond.

 

None apart from the portraits of the past, so we move forward darted like light and sound that illuminates and fills every niche of silence in our hearts.